Model Pembelajaran Kognitivisme
Menurut
teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Teori ini
memfokuskan perubahan perilaku yang sangat berbeda dengan perubahan perilaku
pada behaviorisme. Kalau behaviorisme menekankan pada perubahan perilaku yang
dapat diamati, namun kognitivisme mendeskripsikan perubahan dalam belajar,
berpikir, dan penalaran.
Piaget,
dalam penelitiannya yang bertujuan untuk menemukan bagaimana anak-anak
berpikir, dengan cara menganalisis terhadap jawaban atas pertanyaan yang
diajukan. Filosofi Piaget ada pada keyakinan bahwa manusia memiliki sifat
rasional dan mengerti dunia sekitarnya. Piaget memandang anak sebagai
pembelajar aktif yang membentuk pengetahuannya sendiri. Anak dianggap sebagai
ilmuwan kecil yang menguji hipotesisnya sendiri untuk menemukan bagaimana dunia
bekerja.
Ide
Piaget tentang bagaimana memperoleh pengetahuan, yang diacu sebagai
konstruktivisme. (Lauritzen, 1992). Menurut konstruktivisme, manusia membentuk
pengetahuan berdasar pada pengalaman-pengalamannya. Manusia perlu mendapatkan
kesempatan untuk menggali dan bereksperimen. Kata Piaget, manusia memiliki
motivasi intrinsic, melakukan sesuatu karena ada dorongan internal untuk
mengerti dan memuaskan rasa keingintahuannya itu. Piaget yakin bahwa anak-anak
membentuk pengetahuannya dengan berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya
dan mencoba merasakan pengalamannya.
Ada
empat factor yang menentukan perkembangan kognitif, yaitu :
a.
Kematangan,
perkembangan disebabkan factor-faktor pembawaan, diartikan sebagai potensi kita
untuk perkembangan kognitif.
b.
Pengalaman aktif,
seperti memanipulasi objek dan mental(berpikir), menyebabkan kita mengembangkan
dan menyaring kembali pengertian kita.
c.
Interaksi social,
dengan sesama teman (termasuk guru) memungkinkan kita berbagi ide dan
memperoleh pengetahuan baru.
d.
Equilibrasi,
suatu proses untuk mencari keseimbangan sehubungan dengan adanya konflik antara
skemata yang sudah ada dengan fakta baru.
Selama
proses asimilasi dan akomodasi, tentu ada perubahan-perubahan struktur kognitif
seseorang. Proses perubahan itu suatu saat akan berhenti dan untuk mencapai
berhenti itulah dibutuhkan proses ekuilibrasi (penyeimbangan). Jika
penyeimbangan itu berhasil, maka terbentuklah struktur kognitif yang baru,
sebagai penyatuan antara pengetahuan yang lama dengan pengetahuan yang baru.
·
Peranan
Masyarakat dalam Perkembangan Kognitif.
Baik
Piaget maupun Vygotsky yakin bahwa anak membangun pengetahuannya sendiri, bahwa
kematangan, pengalaman dan interaksi social memegang peranan pada pertumbuhan
kognitif anak. Keduanya berbeda pada tingkat penekanan di bidang teori-teori
keduanya. Piaget memberi penekanan yang lebih besar pada kematangan dan
pengalaman daripada peranan masyarakat. Menurut Piaget, perkembangan anak
terutama disebabkan pertumbuhan biologis dan usahanya untuk merasakan
pengalamannya. Disisi lain, Vygotsky, yakin bahwa manusia hidup dalam
masyarakat, maka ia menekankan pentingnya interaksi social dan memandang budaya
anak sebagai factor penting yang menentukan pertumbuhan kognitif. Maka guru
memainkan peran penting dalam perkembangan belajar dan kognitif anak.
·
Bahasa
Vygotsky
mengklaim bahwa bahasa memegang peranan penting bagi perkembangan kognitif anak
dengan perkembangan keterampilan bahasa yang tinggi dapat melakukan tugas-tugas
kompleks yang tak dapat dilakukan orang-orang yang tidak terpelajar, karena
orang-orang terpelajar menggunakan bahasa sebagai alat yang menjadi perantara
antara tugas dan orang yang melakukan tugas.
·
Teori
Perkembangan Kognitif Bruner
Tahap-tahap
berpikir menurut Bruner :
a.
Enaktif,
anak kecil pada tahap enaktif dan menguasai pengetahuan secara aktif dengan
melakukan kegiatan-kegiatan. Anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk
melakukan kegiatan langsung dengan berbagai objek.
b.
Ikonik,
anak belajar stimuli visual seperti gambar. Anak-anak pada tahap ini
menyandarkan pada representasi visual untuk membantu belajar.
c.
Simbolik,
anak dapat memahami symbol-simbol termasuk kata-kata, matematika, dan
catatan-catatan ilmiah. Bahan-bahan simbolik meliputi, bagian tertulis,
rumus-rumus ilmiah dan matematis, serta bagian-bagian abstrak.
·
Belajar
Menemukan (discovery learning)
Bruner
mengatakan bahwa peserta didik paling baik belajar dengan penemuan, bahwa bila
yang bersangkutan mempunyai pengalaman dari suatu pengertian yang tiba-tiba.
Untuk meningkatkan kemampuan peserta didik menemukan struktur materi, peserta
didik belajar dengan memfokuskan pada ide-ide dan hubungannya dengan satu sama
lain, bukan pada sesuatu yang rinci.
·
Motivasi
Seperti
halnya Piaget, Bruner juga menekankan belajar aktif. Belajar sebaiknya dengan
berbuat. Meskipun motivasinya ekstrinsik, penggunaan ganjaran (reward) dan
penguatan (reinforcers) berguna ketika memulai mengajarkan suatu ide. Bruner
selanjutnya menekankan, bahwa belajar bermakna tergantung pada motivasi
intrinsic peserta didik untuk mengerti dan memahami.
Komentar
Posting Komentar